Perpisahan Kita
"No one knows me like you do,
And since you're the only one that matters."
Ketika bumi mendamba langit, aku melihat ada sebuah kabut yang menyelubungi udara. Tepat diantara keduanya. Membatasi serpihan kecil milik atmosfer, sebelum membangun kembali serpihannya pada galaksi yang mengeratkan planet-planet. Aku tidak pernah mengerti kenapa serpihan kecil itu selalu berada disana. Memberi jarak pada mereka yang ingin mendekat. Memberi dinding pada mereka yang ingin merengkuh.
Perlu kau tahu, tidak harus menjadi seorang astronot untuk melihat apa yang ada di luar bumi. Tidak perlu menjadi profesor untuk mengetahui apa yang perlu kita ketahui. Hanya dengan menunggu dan melihat pun, aku masih bisa melihat dan menyelaminya. Sama seperti bola mata berwarna hitam itu. Aku tidak perlu merengkuhnya untuk melihat apakah bola matanya membulat sempurna. Aku tidak perlu menangkupnya untuk mengetahui apakah berwarna hitam pekat, atau masih tersisa sedikit warna cokelat.
Sepanjang yang kutahu, memperhatikanmu adalah pekerjaan termudah, sekaligus terberat bagiku. Mudah karna hanya dengan melihat senyummu saja, hatiku berbunga. Melihat kehadiranmu saja mampu membangkitkan tawaku. Namun, hal tersebut juga berat untukku ketika aku mati-matian menahan diri untuk tidak berlari kearahmu, dan merengkuhmu. Mengatakan hal yang mungkin akan membuatmu lari pontang-panting dari hadapanku.
Seharusnya aku tahu, setelah kata perpisahan itu, aku lebih menjaga jarak padamu. Mendirikan tembok besar yang akan melindungiku, dan menopangku jika suatu saat aku tidak dapat menahan diri. Seharusnya aku mendirikan benteng yang super kokoh agar aku tidak berlari dengan mudah kearahmu lagi. Tapi sepertinya, bukan tembok dan benteng yang memberi jarak pada kita. Melainkan sebuah kaca yang cukup tebal.
Ia bisa menahanku untuk berlari kearahmu. Ia bisa mencegahku untuk melakukan hal bodoh yang akan menyesalkan. Dan ia bisa melindungiku jika suatu saat nanti kau kembali berbalik padaku. Tapi, kaca selalu punya akses lebih untuk melihatmu. Untuk melihat segala sesuatu tentangmu. Meskipun punggung tegapmu tidak pernah berganti, tapi aku tahu, beban-beban itu ada disana. Menyelubingi asa yang berputar pada poros kalbu.
Perpisahan itu membuka sebuah luka yang sedikit mengering karna kehadiranmu yang selalu membawa kehangatan. Sama seperti hari-hari sebelumnya ketika hujan datang tanpa adanya sosokmu. Angin yang memaksa masuk sama seperti bayangannu yang memaksa untuk terus bergelayut di pikiranku. Bagaimanapun keadaan kita sekarang, seseorang yang selalu mengerti keadaanku adalah kamu. Seseorang yang selalu tahu dengan apapun inginnya hatiku. Dan aku, hanya berharap suatu hari nanti, lagi-lagi kau yang akan mewujudkannya. Tepat seperti impianku.
Perpisahan itu membuka sebuah luka yang sedikit mengering karna kehadiranmu yang selalu membawa kehangatan. Sama seperti hari-hari sebelumnya ketika hujan datang tanpa adanya sosokmu. Angin yang memaksa masuk sama seperti bayangannu yang memaksa untuk terus bergelayut di pikiranku. Bagaimanapun keadaan kita sekarang, seseorang yang selalu mengerti keadaanku adalah kamu. Seseorang yang selalu tahu dengan apapun inginnya hatiku. Dan aku, hanya berharap suatu hari nanti, lagi-lagi kau yang akan mewujudkannya. Tepat seperti impianku.
Komentar
Posting Komentar