Postingan

Aku Tenang

"Like the ocean, they can embrace whatever you have.  Throw all you need, and grasping your soul." Aku pernah berfikir tentang kehidupan. Tentang mereka yang datang dan pergi sesuka hatinya. Menanti sesuatu, ataupun seseorang menjemput dan mengantarkannya pada suatu tempat. Entah, aku tidak tahu menahu tempat apa yang mereka tuju. Tempat seperti apa yang membuat mereka berfikir, bahwa suatu hari nanti, mereka akan berhenti disana.  Kalau seseorang bisa merasakan suatu hal yang mereka sebut pertanda, mungkin aku lebih dari mereka yang pernah merasakannya. Melihat diriku dengan sosok yang lain, atau mungkin sosok yang lain dengan diriku. Entahlah. Yang kutahu, mereka mengulurkan tangan dan menarikku ke sebuah tempat.  Jika seseorang takut akan sebuah mimpi buruk, lain halnya denganku. Aku tidak takut mimpi buruk datang di setiap malamku. Aku tidak takut mereka membuat deru nafasku terus memburu, atau tidak mengijinkanku untuk kembali terlelap. Ketakutanku...

Perpisahan Kita

" No one knows me like you do, And since you're the only one that matters." Ketika bumi mendamba langit, aku melihat ada sebuah kabut yang menyelubungi udara. Tepat diantara keduanya. Membatasi serpihan kecil milik atmosfer, sebelum membangun kembali serpihannya pada galaksi yang mengeratkan planet-planet. Aku tidak pernah mengerti kenapa serpihan kecil itu selalu berada disana. Memberi jarak pada mereka yang ingin mendekat. Memberi dinding pada mereka yang ingin merengkuh.  Perlu kau tahu, tidak harus menjadi seorang astronot untuk melihat apa yang ada di luar bumi. Tidak perlu menjadi profesor untuk mengetahui apa yang perlu kita ketahui. Hanya dengan menunggu dan melihat pun, aku masih bisa melihat dan menyelaminya. Sama seperti bola mata berwarna hitam itu. Aku tidak perlu merengkuhnya untuk melihat apakah bola matanya membulat sempurna. Aku tidak perlu menangkupnya untuk mengetahui apakah berwarna hitam pekat, atau masih tersisa sedikit warna c...

Film Klasik Tentangmu.

"Baby your smile's forever in my mind in memory." Sudah ribuan kali kaset di otakku memutarkan sebuah film klasik yang kuciptakan sendiri. Sebuah film tentang seseorang yang mengagumi sosok laki-laki berperawakan tegap. Tentang kisah cinta yang ia sendiri tidak tahu akan berujung bagaimana. Tentang cerita indah yang tidak tahu akan sama berakhir indah, atau kah semu. Dan film itu, tidak berujung sebagaimana mestinya. Terakhir kali kuingat, aku tengah mengharapkan sosokmu datang dan merengkuhku ke dalam pelukan hangat yang menenangkan. Aku yang saat itu tengah tersenyum lebar ke langit biru, dan berharap bahwa Tuhan akan mengabulkan segala permintaanku. Serakah kah aku? Jika seandainya aku menginginkan lebih dari yang kuinginkan. Seandainya aku ingin memiliki lebih dari yang kumiliki saat ini.  Aku ingin semua senyumnya. Aku ingin semua dekapannya. Aku ingin semua belaiannya. Aku ingin semua kecupannya. Dan aku ingin segala hal tentangnya.  Fim yan...

Sewindu

"Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis, Di setiap pagimu, siangmu, malammu." Untuk para penikmat seni, mungkin aku dijuluki seorang apresiator seni. Seseorang yang bertugas untuk mengamati, menilai, dan menghargai apa yang seniman ciptakan. Merangkumnya pada sebuah relung, dan memberikannya pada sebuah kepuasan. Untuk konteks seni, aku bisa dikatakan seperti itu.  Aku sudah belajar banyak mengenai bagaimana cara mengamati, menilai, dan menghargai sebuah karya cipta. Aku mengagumi setiap ciptaan yang ditakdirkan untuk bertemu denganku.Tak terkecuali, senyum yang melengkung tajam di bawah kumis tipis itu, punggung yang tegap, dan jemari-jemari yang kuat. Aku masih tahu dengan jelas, bagaimana menghargai suatu karya satu itu.  Langkah kaki ringan, aroma yang menguar, dan atmosfer yang tiba-tiba saja berganti. Semuanya pernah kurasakan meskipun sebentar. Aku adalah apresiator tentang mu. Aku, diam-diam mengamatimu, menilaimu, dan menikmati setiap tatapan mat...

Sesuatu itu, Indah.

"You smile back at me,  and your face  lit up  the sun. Now I'm waiting here for someone." Ada yang lebih indah dari kilaunya sinar mentari. Dari merdunya debur ombak di tepi pantai. Dari silaunya langit biru. Dan dari gemerlapnya bintang-bintang di setiap galaksi. Senyum dan punggung itu. Menghantui di setiap sel-sel jaringan otak, dan menghubungkannya pada sebuah rasa yang kusebut hangat.  Aku pernah bermimpi, menyandarkan segala bebanku pada punggung itu. Menaruh segala keluh kesahku untuk kubagi, Merengkuh segala kenyamanan yang ia miliki. Aku pernah bermimpi, melukiskan senyum pada sudut-sudut bibir itu. Menarik setiap kerutan, dan melepaskannya setelah lelah.  Di satu hari, saat aku melihatmu, satu-satunya hal yang kuinginkan adalah menggenggam jemari-jemarimu, dan berjalan di sampingmu. Membisikkan segala hal yang kutahu, dan mendekapmu layaknya bintang yang memeluk langit malam. Selalu saja seperti itu. Sosokmu yang sanggup membuat s...