Sewindu


"Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis,
Di setiap pagimu, siangmu, malammu."



Untuk para penikmat seni, mungkin aku dijuluki seorang apresiator seni. Seseorang yang bertugas untuk mengamati, menilai, dan menghargai apa yang seniman ciptakan. Merangkumnya pada sebuah relung, dan memberikannya pada sebuah kepuasan. Untuk konteks seni, aku bisa dikatakan seperti itu. 

Aku sudah belajar banyak mengenai bagaimana cara mengamati, menilai, dan menghargai sebuah karya cipta. Aku mengagumi setiap ciptaan yang ditakdirkan untuk bertemu denganku.Tak terkecuali, senyum yang melengkung tajam di bawah kumis tipis itu, punggung yang tegap, dan jemari-jemari yang kuat. Aku masih tahu dengan jelas, bagaimana menghargai suatu karya satu itu. 

Langkah kaki ringan, aroma yang menguar, dan atmosfer yang tiba-tiba saja berganti. Semuanya pernah kurasakan meskipun sebentar. Aku adalah apresiator tentang mu. Aku, diam-diam mengamatimu, menilaimu, dan menikmati setiap tatapan mata yang terjadi hanya sepersekian detik. 

Tidak perlu berharap banyak, hanya sebuah senyuman saja aku sudah mengapresiasi segalanya. Senyum itu mengandung banyak arti. Arti yang sampai sekarang pun masih belum bisa kuterjemahkan. Arti yang sampai sekarang pun masih kugenggam erat di relung kalbu. Jadi, kalau kau ingin singgah, jangan terkejut jika menemukan sesuatu tentang dirimu. 

Kurasa aku tetap akan menjadi apresiatormu hingga sekarang. Aku masih menemukan diriku yang selalu mengamatimu, menikmati setiap titik terindahmu, dan menghargaimu layaknya permata dan berlian. Dengan jarak yang sebegini luasnya, mungkin kau tidak akan menemukan diriku berada. Tenggelam diantara lautan manusia yang juga ingin mengapresiasi karya Tuhan akan ciptaannya. 

Dan aku, hanya diam-diam menuliskan kalimat-kalimat picisan yang mungkin suatu hari nanti, akan kau temukan usang. Jalan hidup memang tidak dapat ditebak. Mungkin aku sudah tidak berada di tempatku lagi saat kau memilih datang dan singgah. Mungkin aku sudah bukan apresiator mu lagi saat kau menyadari ada seseorang yang lebih menghargai karya itu lebih dari siapapun. Dan mungkin aku sudah bukan lagi penikmat seni yang datang hanya untuk melihat senyum itu, punggung itu, dan jemari itu. 

Sekarang, bukan lagi tentang sewindu aku menunggu dan mengapresiasi, tapi tentang bagaimana aku perlahan melepasmu, meskipun sudah berkali-kali ingin menetap. Bagiku, karya terbaik adalah sosokmu. Sosok yang selalu melintang di setiap garis horizontal, dan gemerlap di tengah samudra galaksi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpisahan Kita

Aku Tenang

Film Klasik Tentangmu.